Sosialisme: Utopis dan Ilmiah {3}

>> Kamis, 24 Januari 2008

Sambungan :

Untuk maksud sehari-hari kita tahu dan dapat mengatakan, misalnya, apakah seekor hewan itu hidup atau tidak. Tetapi, setelah diperiksa lebih teliti, kita ketahui bahwa hal ini, dalam banyak hal, adalah suatu masalah yang sangat rumit, sebagaimana diketahui betul oleh para ahli hukum. Mereka telah memeras otak mereka dengan sia-sia untuk menemukan suatu batas rasionil yang di luar batas ini membunuh anak dalam kandungan ibunya merupakan suatu pembunuhan. Persis sama tidak mungkinnya untuk menentukan secara mutlak saat kematian, karena fisiologi membuktikan bahwa kematian bukanlah suatu gejala yang seketika itu juga, yang sekejap mata, melainkan suatu proses yang lama sekali.
Begitu juga, setiap keadaan organik pada setiap saat adalah yang itu juga dan bukan yang itu juga; setiap saat ia mengasimilasi materi yang disediakan dari luar, dan membebaskan diri dari materi lain; setiap saat beberapa sel dari badannya mati dan sel-sel lain membentuk diri lagi; dalam waktu yang lama atau pendek materi dari badannya diperbaharui sama sekali dan diganti oleh molekul-molekul materi lain, sehingga setiap keadaan organik adalah senantiasa dia sendiri dan juga sesuatu yang lain daripada dia sendiri.
Selanjutnya, setelah menyelidiki lebih teliti kita ketahui, bahwa kedua kutub dari suatu antitesis, positif dan negatif, misalnya, adalah sama tak terpisahkannya sebagaimana mereka itu juga saling bertentangan, dan bahwa kendatipun segala pertentangan mereka, mereka saling menyusup. Dan, begitu juga, kita ketahui bahwa sebab dan akibat adalah konsepsi-konsepsi yang hanya berlaku dalam penerapan mereka pada satu-satu hal; tetapi segera sesudah kita perhatikan satu-satu hal itu dalam hubungan umum mereka dengan alam-dunia sebagai keseluruhan, mereka saling bertumbuk, dan mereka menjadi campur-aduk apabila kita pandang aksi dan reaksi yang universal di mana sebab dan akibat secara langgeng bertukar tempat, sehingga apa yang merupakan akibat di sini dan sekarang akan menjadi sebab di sana dan pada waktu itu, dan vice versa (sebaliknya).
Dari proses-proses dan cara-cara berpikir ini tidak ada yang masuk rangka berpikir secara metafisik. Dialektika, sebaliknya, memahami hal-ihwal-hal-ihwal serta gambarannya, ide-ide mereka, dalam hubungan, rangkaian, gerak, awal dan akhir mereka yang hakiki. Karena itu, proses-proses seperti yang tersebut di atas adalah sebegitu banyak pembenaran dari metode prosedurnya sendiri.
Alam adalah bukti dialektika, dan harus dikatakan tentang ilmu modern bahwa ia telah melengkapi bukti ini dengan bahan-bahan yang sangat kaya yang bertambah banyak setiap hari, dan dengan demikian telah menunjukkan bahwa pada tingkatan yang terakhir Alam berlaku secara dialektik dan tidak secara metafisik; bahwa ia tidak bergerak dalam kesatuan abadi dari suatu lingkaran yang berulang terus-menerus, tetapi mengalami evolusi historis yang nyata. Dalam hubungan ini Darwin harus yang pertama-tama disebut sebelum semua lainnya. Dia telah memberikan pukulan yang paling berat kepada konsepsi metafisik tentang Alam dengan pembuktiannya bahwa semua keadaan organik, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia sendiri, adalah hasil dari suatu proses evolusi yang berlangsung selama jutaan tahun. Tetapi kaum naturalis yang telah belajar berpikir secara dialektik sedikit dan jarang, dan bentrokan antara hasil-hasil penemuan dengan cara berpikir yang sudah berprasangka ini menerangkan kekacauan yang tiada habisnya yang sekarang sedang berkuasa dalam ilmu alam teoritis, keputusasaan baik para guru maupun para siswa, keputusasaan para penulis dan juga pada pembaca.
Karena itu suatu penggambaran yang tepat tentang alam-dunia, tentang evolusinya, tentang perkembangan umat manusia dan tentang pencerminan evolusi ini dalam pikiran manusia, dapat diperoleh hanya dengan metode dialektika dengan perhatiannya tetap pada aksi-aksi dan reaksi-reaksi yang tak terhitung banyaknya dari hidup dan mati, dari perubahan-perubahan yang progresif dan yang mundur. Dan dalam semangat inilah filsafat Jerman yang baru itu telah bekerja. Kant memulai kariernya dengan memecahkan sistem surya yang stabil dari Newton dan kelangsungannya yang abadi, sesudah dorongan permulaan yang terkenal itu sekali diberikan, menjadi hasil dari proses bersejarah, pembentukan matahari dan semua planet dari massa berkabut yang berputar. Dari sini dia bersamaan waktu menarik kesimpulan bahwa, andaikan ini asal sistem surya, kematiannya di masa depan akibat keharusan. Teorinya ini setengah abad kemudian telah dibuktikan secara matematik oleh Laplace, dan setengah abad sesudah itu spektroskop membuktikan adanya dalam ruang angkasa massa gas pijar yang sedemikian itu dalam berbagai tingkatan kondensasi.
Bersambung :

0 komentar:

Posting Komentar

Go TO :

  © Blogger template Webnolia by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP