Sosialisme: Utopis dan Ilmiah {4}

>> Kamis, 24 Januari 2008

Sambungan :
Filsafat Jerman baru ini memuncak dengan sistem Hegel. Dalam sistem ini-dan di sinilah jasanya yang besar-untuk pertama kali seluruh dunia, dunia alam, dunia sejarah, dunia intelek, digambarkan sebagai suatu proses, yaitu, sebagai dalam senantiasa gerak, berubah, peralihan, berkembang; dan dilakukan percobaan untuk menyelidiki hubungan intern yang membuat semua gerak dan perkembangan ini suatu keseluruhan yang terus-menerus. Dari titik pandangan ini sejarah umat manusia tidak lagi tampak sebagai olakan liar dari tindakan-tindakan kekerasan yang tolol, yang semua sama-sama terkutuk di meja pengadilan dari akal filsafat yang matang dan yang sebaik-baiknya dilupakan secepat mungkin, tetapi sebagai proses evolusi manusia sendiri. Sekarang adalah tugas intelek untuk mengikuti kemajuan yang berangsur-angsur dari proses ini melalui semua jalannya yang berliku-liku, dan untuk mengusut hukum intern yang menembus semua gejalanya yang nampaknya kebetulan.
Bahwasanya sistem Hegel tidak memecahkan masalah yang dikemukakannya di sini tidaklah penting. Jasanya yang membikin-zaman ialah bahwa ia telah mengajukan masalahnya. Masalah ini adalah masalah yang tak seorangpun akan dapat memecahkannya. Meskipun Hegel-dengan Saint-Simon-merupakan pikiran yang paling ensiklopedis dari zamannya, namun dia adalah terbatas, pertama, karena keluasan pengetahuannya sendiri yang semestinya terbatas dan, kedua, karena keluasan serta kedalaman yang terbatas dari pengetahuan serta konsepsi-konsepsi abadnya. Pada batas-batas ini harus ditambahkan batas yang ketiga. Hegel adalah seorang idealis. Bagi dia pikiran-pikiran di dalam otaknya bukanlah gambar-gambar yang sedikit atau banyak abstrak dari benda-benda dan proses-proses yang sebenarnya, melainkan, sebaliknya, benda-benda dan evolusi mereka hanyalah merupakan gambar-gambar yang direalisasi dari “Ide”, yang ada di sesuatu tempat sejak selama-lamanya sebelum dunia ini ada. Cara berpikir ini telah menjungkirbalikkan segala-sesuatu, dan sama sekali berlawanan dengan hubungan yang sebenarnya dari benda-benda di dunia. Banyak kelompok fakta-fakta khusus dipahami dengan tepat dan cerdik oleh Hegel, namun, karena alasan-alasan yang baru saja diberikan, maka banyak yang dirusak, dibuat-buat, sukar, pendek kata, salah dalam hal detailnya. Sistem Hegel, dengan sendirinya, adalah suatu keguguran yang maha besar-tetapi ia juga merupakan yang terakhir dari yang semacam itu. Ia sebenarnya menderita kontradiksi intern dan yang tak dapat disembuhkan. Di satu pihak, dalilnya yang hakiki ialah konsepsi bahwa sejarah manusia adalah suatu proses evolusi yang, menurut kodratnya sendiri, tidak bisa mendapatkan batas intelektuilnya yang terakhir dengan penemuan sesuatu apa yang disebut kebenaran absolut. Tetapi, di pihak lain, ia menuntut sebagai hakekat dari kebenaran absolut itu sendiri. Sistem pengetahuan alam dan sejarah, yang meliputi segala-galanya, dan definitif untuk selama-lamanya, adalah suatu kontradiksi terhadap hukum fundamentil dari berpikir dialektik. Hukum ini, sesungguhnya, sekali-kali tidak mengecualikan tetapi, sebaliknya, meliputi ide bahwa pengetahuan sistematis tentang alam-dunia luar dapat membuat langkah-langkah raksasa dari abad ke abad.
Bersambung

2 komentar:

FREE WEST PAPUA NEWS 10 Februari 2009 04.21  

http://mahasiswapaua.multiply.com/reviews/item/2

ALIANSI-MAHASISWA-PAPUA(AMP) 3 Maret 2009 07.08  

http://obamaia.multiply.com/journal/item/177/RETUR_WEST_PAPUA_NOT_BY_FREE_CHOICES_AND_AN_INVALIDATES_PROSES_DEMOCRACTICES

Posting Komentar

Go TO :

  © Blogger template Webnolia by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP