Sosialisme: Utopis dan Ilmiah {4}

>> Kamis, 24 Januari 2008

Sambungan :
Filsafat Jerman baru ini memuncak dengan sistem Hegel. Dalam sistem ini-dan di sinilah jasanya yang besar-untuk pertama kali seluruh dunia, dunia alam, dunia sejarah, dunia intelek, digambarkan sebagai suatu proses, yaitu, sebagai dalam senantiasa gerak, berubah, peralihan, berkembang; dan dilakukan percobaan untuk menyelidiki hubungan intern yang membuat semua gerak dan perkembangan ini suatu keseluruhan yang terus-menerus. Dari titik pandangan ini sejarah umat manusia tidak lagi tampak sebagai olakan liar dari tindakan-tindakan kekerasan yang tolol, yang semua sama-sama terkutuk di meja pengadilan dari akal filsafat yang matang dan yang sebaik-baiknya dilupakan secepat mungkin, tetapi sebagai proses evolusi manusia sendiri. Sekarang adalah tugas intelek untuk mengikuti kemajuan yang berangsur-angsur dari proses ini melalui semua jalannya yang berliku-liku, dan untuk mengusut hukum intern yang menembus semua gejalanya yang nampaknya kebetulan.
Bahwasanya sistem Hegel tidak memecahkan masalah yang dikemukakannya di sini tidaklah penting. Jasanya yang membikin-zaman ialah bahwa ia telah mengajukan masalahnya. Masalah ini adalah masalah yang tak seorangpun akan dapat memecahkannya. Meskipun Hegel-dengan Saint-Simon-merupakan pikiran yang paling ensiklopedis dari zamannya, namun dia adalah terbatas, pertama, karena keluasan pengetahuannya sendiri yang semestinya terbatas dan, kedua, karena keluasan serta kedalaman yang terbatas dari pengetahuan serta konsepsi-konsepsi abadnya. Pada batas-batas ini harus ditambahkan batas yang ketiga. Hegel adalah seorang idealis. Bagi dia pikiran-pikiran di dalam otaknya bukanlah gambar-gambar yang sedikit atau banyak abstrak dari benda-benda dan proses-proses yang sebenarnya, melainkan, sebaliknya, benda-benda dan evolusi mereka hanyalah merupakan gambar-gambar yang direalisasi dari “Ide”, yang ada di sesuatu tempat sejak selama-lamanya sebelum dunia ini ada. Cara berpikir ini telah menjungkirbalikkan segala-sesuatu, dan sama sekali berlawanan dengan hubungan yang sebenarnya dari benda-benda di dunia. Banyak kelompok fakta-fakta khusus dipahami dengan tepat dan cerdik oleh Hegel, namun, karena alasan-alasan yang baru saja diberikan, maka banyak yang dirusak, dibuat-buat, sukar, pendek kata, salah dalam hal detailnya. Sistem Hegel, dengan sendirinya, adalah suatu keguguran yang maha besar-tetapi ia juga merupakan yang terakhir dari yang semacam itu. Ia sebenarnya menderita kontradiksi intern dan yang tak dapat disembuhkan. Di satu pihak, dalilnya yang hakiki ialah konsepsi bahwa sejarah manusia adalah suatu proses evolusi yang, menurut kodratnya sendiri, tidak bisa mendapatkan batas intelektuilnya yang terakhir dengan penemuan sesuatu apa yang disebut kebenaran absolut. Tetapi, di pihak lain, ia menuntut sebagai hakekat dari kebenaran absolut itu sendiri. Sistem pengetahuan alam dan sejarah, yang meliputi segala-galanya, dan definitif untuk selama-lamanya, adalah suatu kontradiksi terhadap hukum fundamentil dari berpikir dialektik. Hukum ini, sesungguhnya, sekali-kali tidak mengecualikan tetapi, sebaliknya, meliputi ide bahwa pengetahuan sistematis tentang alam-dunia luar dapat membuat langkah-langkah raksasa dari abad ke abad.
Bersambung

Read more...

Sosialisme: Utopis dan Ilmiah {3}

Sambungan :

Untuk maksud sehari-hari kita tahu dan dapat mengatakan, misalnya, apakah seekor hewan itu hidup atau tidak. Tetapi, setelah diperiksa lebih teliti, kita ketahui bahwa hal ini, dalam banyak hal, adalah suatu masalah yang sangat rumit, sebagaimana diketahui betul oleh para ahli hukum. Mereka telah memeras otak mereka dengan sia-sia untuk menemukan suatu batas rasionil yang di luar batas ini membunuh anak dalam kandungan ibunya merupakan suatu pembunuhan. Persis sama tidak mungkinnya untuk menentukan secara mutlak saat kematian, karena fisiologi membuktikan bahwa kematian bukanlah suatu gejala yang seketika itu juga, yang sekejap mata, melainkan suatu proses yang lama sekali.
Begitu juga, setiap keadaan organik pada setiap saat adalah yang itu juga dan bukan yang itu juga; setiap saat ia mengasimilasi materi yang disediakan dari luar, dan membebaskan diri dari materi lain; setiap saat beberapa sel dari badannya mati dan sel-sel lain membentuk diri lagi; dalam waktu yang lama atau pendek materi dari badannya diperbaharui sama sekali dan diganti oleh molekul-molekul materi lain, sehingga setiap keadaan organik adalah senantiasa dia sendiri dan juga sesuatu yang lain daripada dia sendiri.
Selanjutnya, setelah menyelidiki lebih teliti kita ketahui, bahwa kedua kutub dari suatu antitesis, positif dan negatif, misalnya, adalah sama tak terpisahkannya sebagaimana mereka itu juga saling bertentangan, dan bahwa kendatipun segala pertentangan mereka, mereka saling menyusup. Dan, begitu juga, kita ketahui bahwa sebab dan akibat adalah konsepsi-konsepsi yang hanya berlaku dalam penerapan mereka pada satu-satu hal; tetapi segera sesudah kita perhatikan satu-satu hal itu dalam hubungan umum mereka dengan alam-dunia sebagai keseluruhan, mereka saling bertumbuk, dan mereka menjadi campur-aduk apabila kita pandang aksi dan reaksi yang universal di mana sebab dan akibat secara langgeng bertukar tempat, sehingga apa yang merupakan akibat di sini dan sekarang akan menjadi sebab di sana dan pada waktu itu, dan vice versa (sebaliknya).
Dari proses-proses dan cara-cara berpikir ini tidak ada yang masuk rangka berpikir secara metafisik. Dialektika, sebaliknya, memahami hal-ihwal-hal-ihwal serta gambarannya, ide-ide mereka, dalam hubungan, rangkaian, gerak, awal dan akhir mereka yang hakiki. Karena itu, proses-proses seperti yang tersebut di atas adalah sebegitu banyak pembenaran dari metode prosedurnya sendiri.
Alam adalah bukti dialektika, dan harus dikatakan tentang ilmu modern bahwa ia telah melengkapi bukti ini dengan bahan-bahan yang sangat kaya yang bertambah banyak setiap hari, dan dengan demikian telah menunjukkan bahwa pada tingkatan yang terakhir Alam berlaku secara dialektik dan tidak secara metafisik; bahwa ia tidak bergerak dalam kesatuan abadi dari suatu lingkaran yang berulang terus-menerus, tetapi mengalami evolusi historis yang nyata. Dalam hubungan ini Darwin harus yang pertama-tama disebut sebelum semua lainnya. Dia telah memberikan pukulan yang paling berat kepada konsepsi metafisik tentang Alam dengan pembuktiannya bahwa semua keadaan organik, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia sendiri, adalah hasil dari suatu proses evolusi yang berlangsung selama jutaan tahun. Tetapi kaum naturalis yang telah belajar berpikir secara dialektik sedikit dan jarang, dan bentrokan antara hasil-hasil penemuan dengan cara berpikir yang sudah berprasangka ini menerangkan kekacauan yang tiada habisnya yang sekarang sedang berkuasa dalam ilmu alam teoritis, keputusasaan baik para guru maupun para siswa, keputusasaan para penulis dan juga pada pembaca.
Karena itu suatu penggambaran yang tepat tentang alam-dunia, tentang evolusinya, tentang perkembangan umat manusia dan tentang pencerminan evolusi ini dalam pikiran manusia, dapat diperoleh hanya dengan metode dialektika dengan perhatiannya tetap pada aksi-aksi dan reaksi-reaksi yang tak terhitung banyaknya dari hidup dan mati, dari perubahan-perubahan yang progresif dan yang mundur. Dan dalam semangat inilah filsafat Jerman yang baru itu telah bekerja. Kant memulai kariernya dengan memecahkan sistem surya yang stabil dari Newton dan kelangsungannya yang abadi, sesudah dorongan permulaan yang terkenal itu sekali diberikan, menjadi hasil dari proses bersejarah, pembentukan matahari dan semua planet dari massa berkabut yang berputar. Dari sini dia bersamaan waktu menarik kesimpulan bahwa, andaikan ini asal sistem surya, kematiannya di masa depan akibat keharusan. Teorinya ini setengah abad kemudian telah dibuktikan secara matematik oleh Laplace, dan setengah abad sesudah itu spektroskop membuktikan adanya dalam ruang angkasa massa gas pijar yang sedemikian itu dalam berbagai tingkatan kondensasi.
Bersambung :

Read more...

Sosialisme: Utopis dan Ilmiah {2}

Sambungan :
Tetapi konsepsi ini, bagaimanapun juga tepatnya menyatakan watak umum dari gambaran gejala-gejala dalam keseluruhannya, tidaklah cukup untuk menerangkan detail-detail yang membentuk gambaran ini, dan selama kita tidak mengerti detail-detail ini, kita tidak mempunyai gagasan yang jelas tentang gambaran itu seluruhnya. Untuk mengerti tentang detail-detail ini kita harus melepaskannya dari hubungan alam atau hubungan sejarah mereka dan memeriksanya masing-masing ter-sendiri-sendiri, sifatnya, sebab-sebab khusus, akibat-akibatnya, dsb. Ini pertama-tama adalah tugas ilmu alam dan penelitian sejarah: cabang-cabang ilmu yang oleh orang-orang Yunani zaman klasik, atas alasan-alasan yang baik sekali, diturunkan ke kedudukan bawahan, karena mereka pertama-tama harus mengumpulkan bahan-bahan bagi ilmu-ilmu ini untuk dikerjakan. Sejumlah bahan alam dan sejarah tertentu harus dikumpulkan sebelum mungkin ada sesuatu analisa yang kritis, pembandingan dan penyusunan ke dalam golongan-golongan, susunan-susunan dan jenis-jenis. Karena itu, dasar-dasar dari ilmu alam eksak mula-mula dikembangkan oleh orang-orang Yunani pada periode Alexandria[1], dan kemudian, dalam Abad Pertengahan, oleh orang-orang Arab. Ilmu alam yang sejati mulai sejak dari pertengahan kedua abad ke-15, dan sejak itu ia telah maju dengan kecepatan yang senantiasa meningkat. Analisa Alam ke dalam bagian-bagiannya yang khusus, penggrupan proses-proses dan obyek-obyek alam yang berlain-lainan, ke dalam golongan-golongan tertentu, studi tentang anatomi intern dari badan-badan organik dalam bentuk-bentuk mereka yang bermacam-macam-inilah syarat-syarat fundamental bagi langkah-langkah raksasa dalam pengetahuan kita tentang Alam yang telah dibuat selama empat ratus tahun yang lalu. Tetapi cara kerja demikian ini juga telah meninggalkan pada kita sebagai warisan kebiasaan memandang obyek-obyek serta proses-proses alam terpisah-pisah, terasing dari hubungan mereka dengan keseluruhan yang maha besar; memandangnya dalam diam, tidak dalam gerak; sebagai tetap, bukan sebagai yang pada hakekatnya berubah-ubah, dalam kematiannya, bukan dalam kehidupannya. Dan ketika cara memandang hal-ihwal ini dipindahkan oleh Bacon dan Locke dari ilmu alam ke filsafat, ia melahirkan cara berpikir yang metafisik, sempit, yang khas bagi abad yang lalu.
Bagi seorang metafisikus, hal-ihwal dan pencerminan-pencerminan mereka di dalam pikiran, ide-ide, adalah terpisah-pisah, harus dipandang satu demi satu dan terasing satu sama lain, adalah obyek-obyek penyelidikan yang tetap, kaku, yang ditentukan sekali untuk selama-lamanya. Dia berpikir dalam antitese-antitese yang sama sekali tak terdamaikan. “Jalan pikirannya ialah ‘ya, ya; tidak, tidak’; karena apapun juga yang lebih daripada ini datang dari setan”. Baginya suatu hal-ihwal itu ada atau tidak ada, suatu hal-ihwal tidak bisa pada waktu yang sama adalah dia sendiri dan sesuatu yang lain. Positif dan negatif secara mutlak saling mengecualikan; sebab dan akibat berada dalam antitese yang kaku satu sama lain.
Sepintas lalu cara berpikir ini nampaknya bagi kita sangat gemilang, karena itulah yang dinamakan akal sehat. Hanyalah akal sehat, orang terhormatlah dia, di dalam empat tembok dari kerajaan kamar-duduknya sendiri, yang mengalami avontur-avontur yang sangat indah segera dia memberanikan diri memasuki dunia penelitian yang luas. Dan cara berpikir yang metafisik, yang dapat dibenarkan dan perlu seperti halnya dalam sejumlah bidang yang keluasannya berlain-lainan menurut sifat obyek penelitian yang khusus, cepat atau lambat mencapai suatu batas, yang di luar batas ini ia menjadi berat-sebelah, terbatas, abstrak, tenggelam dalam kontradiksi-kontradiksi yang tak terpecahkan. Dalam memandang satu-satu hal-ihwal, ia melupakan hubungan di antara mereka; dalam memandang keadaan mereka, ia lupa akan awal dan akhir dari keadaan itu; dalam memandang diam mereka, ia melupakan gerak mereka. Karena pohon tidak dapat melihat hutan.
Bersambung...

Read more...

Sosialisme: Utopis dan Ilmiah

Dialektika


Dalam pada itu, bersama dengan dan sesudah filsafat Perancis abad ke-18 telah muncul filsafat Jerman baru, yang memuncak dengan Hegel. Jasanya yang terbesar ialah diangkatnya kembali dialektika sebagai bentuk tertinggi dari pemikiran. Ahli-ahli filsafat Yunani kuno semuanya dasarnya adalah dialektikus-dialektikus alamiah, dan Aristotel, orang intelek yang paling ensiklopedis di antara mereka, sudah menganalisa bentuk-bentuk yang paling esensiil dari pikiran dialektik. Di pihak lain, filsafat yang lebih baru, meskipun di dalamnya dialektika juga mempunyai eksponen-eksponen (wakil-wakil) yang brilian (misalnya, Descartes dan Spinoza), telah terutama lewat pengaruh Inggris, menjadi semakin tegang-kaku dalam apa yang dinamakan metode berpikir yang metafisik, yang hampir sama sekali menguasai juga orang-orang Perancis abad ke-18, setidak-tidaknya dalam karya khusus filsafat mereka. Di luar filsafat dalam arti yang terbatas, orang-orang Perancis meskipun demikian menghasilkan karya-karya agung tentang dialektika. Kita hanya perlu mengingatkan “Le Neveu de Rameau” (Kemenakan Rameau) dari Diderot dan karya Rousseau “Discours sur l'origine et les fondements de l'inégalité parmi les homes” (Uraian tentang Asal-usul dan Dasar dari Ketidaksamaan di kalangan Manusia). Di sini secara singkat kita tunjukkan watak yang esensiil dari dua cara berpikir ini.
Apabila kita perhatikan dan renungkan Alam pada umumnya, atau sejarah umat manusia atau aktivitet intelektuil kita sendiri, mula-mula kita lihat gambaran dari suatu kekacauan yang tak ada akhirnya dari hubungan-hubungan dan reaksi-reaksi, pergantian-pergantian dan kombinasi-kombinasi, di mana tak ada yang tetap apa, di mana dan sebagaimana telah adanya, tetapi segala-sesuatu bergerak, berubah, menjadi dan melenyap. Oleh karena itu, kita lihat mula-mula gambaran keseluruhannya dengan bagian-bagian individuilnya banyak-sedikitnya masih tinggal di latar belakang; kita lebih memperhatikan gerakan-gerakan, peralihan-peralihan, hubungan-hubungan daripada benda-bendanya yang bergerak, berkombinasi dan berhubungan. Konsepsi dunia yang primitif, naïf, tetapi pada dasarnya tepat ini adalah konsepsi filsafat Yunani kuno, dan pertama kali dirumuskan dengan jelas oleh Heraclitus: segala-sesuatu itu ada dan tiada, karena segala-sesuatu itu mengalir, senantiasa berubah, senantiasa menjadi dan melenyap

Bersambung......

Read more...

Makna Kepahlawanan dalam Isu Kekinian

[ penulis: Drs Jeni Akmal topik: Sejarah ]


Sebagai anak bangsa dan generasi penerus yang akan menerima tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini, ternyata kita seringkali melupakan sejalah perjuangan bangsa sendiri. Karena mengabaikan sejarah perjuangan bangsa, maka rasa nasionalisme kita kian memprihatinkan dan wawasan kebangsaan kian menipis.
Kebanggaan terhadap Negara dan bangsa lain ternyata telah menggeser kebanggaan terhadap bangsa dan Negara sendiri. Untuk itulah ketika simbol-simbol Negara dan bangsa ini “diinjak-injak”, “dipandang sebelah mata” dan “dilecehkan” orang atau kelompok tertentu, maka semua kita “diam” tanpa makna. Anehnya, bahkan ada di antaranya yang ikut-ikutan nimbrung melakukan hal yang sama.
Kalau saja kita mengetahui, mengerti, dan memahami sejarah perjuangan bangsa ini, maka kita akan tersinggung sebagai bangsa yang merdeka manakala bendera merah putih dibakar atau diinjak-injak orang atau pihak lain.

Pengorbanan para pejuang kita dulunya untuk mengibarkan sang merah putih diberbagai pelosok negeri tentu tidak semudah apa yang kita lakukan pada setiap kegiatan upacara bendera ataupun peringatan hari-hari bersejarah dinegeri ini. Ternyata anggapan kita terhadap “Merah-Putih” hanya- bagaikan kertas dan kain yang tidak memiliki makna sama sekali. Padahal karena memperjuangkan “merah putih” tersebutlah, maka bangsa ini berjuang mati-matian untuk mendapatkan dan mempertahankan kemerdekaannya.

Bagi para pejuang dulunya,lebih baik mati berlumuran darah ketimbang hidup mewah dibawah kekuasaan penjajah. Kalau saja kita rajin membaca sejarah perjuangan bangsa, maka kita akan membaca tentang perlakuan biadab, tidak manusiawi, dan amoral para penjajah terhadap para pejuang kita. Untuk itu, wajar kiranya manakala saat sekarang pemerintah menyebutnya dengan Pahlawan.
Pahlawan, indah namanya, manis perjuangannya, besar jasanya, dan tinggi amalannya. Pahlawan, mulia cita-citanya, murni semangatnya. dan suci nilai-nilai perjuangannya. Untuk itu, pantas kiranya Achmad Maulana (2004) dalam karyanya Kamus Ilmiah Populer, mendefinisikan bahwa Pahlawan adalah orang-orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, perjuangan yang gagah berani.

Dalam hal ini Achmad Maulana menggarisbawahi bahwa perjuangan para pahlawan memiliki landasan yang jelas, yaitu kebenaran dengan metoda keberanian. Secara histories, karena keberanian perjuangan para pahlawan tersebutlah., maka banyak sekali di antara mereka yang berguguran di medan perang menghadapi para penjajah. Tidak hanya harta benda dan anak isteri yang telah mereka korbankan, melainkan juga jiwa raganya.

Ketika bangsa penjajah menawarkan dua opsi kepada para patriot negeri dan pejuang bangsa, yaitu; “hidup atau mati “, maka mereka lebih memilih mati ketimbang hidup bersama penjajah. Jika dua opsi tersebut ditawarkan penjajah kepada generasi bangsa ini saat sekarang, maka jumlah yang memilih mati untuk bangsa dan negaranya tentu sangat sedikit. Kita ternyata lebih memilih, harta, pangkat dan jabatan ketimbang “mengharumkan nama bangsa”.

Membanjirnya berbagai sumbangan ke Aceh pascagempa bumi dan tsunami ternyata dapat dijadikan sebagai ukuran akan kadar nasionalisme, rasa kebangsaan, dan nitai-nilai patriotisme kita sebagai anak bangsa. Karena ekststensi luar negeri, maka seakan-akan jasa, jerih paya dan partisipasi bangsa sendiri seakan-akan menjadi “sirna ditelan masa.”

Sebagai etnis pejuang, ditakuti musuh dan pernah jaya sepanjang massa, maka saatnya sekarang masyarakat Aceh harus bangkit secara bersama-sama. Ketika Aceh diserang Belanda pada 6 April 1873, dibawah pimpinan Mayor Jenderal J.H.R Kohler, maka dengan gagah berani, pantang menyerah dan semangat ingin tetap merdeka prajurit dan masyarakat sipil Aceh bersatu melawan Belanda. Walaupun pada serangan pertama Belanda berhasil.

menguasai Masjid Raya Baiturrahman, namun pada selanjutnya prajurit dan masyarakat Aceh berhasil membuat pasukan Belanda mundur dengan korban yang sangat banyak, termasuk Mayjen J.H.R. Kohler. Beberapa pejuang yang dipimpin oleh Cut Nya‘ Dien, Teuku Umar, Teuku Chik Ditiro, Panglima Polem d1l, ternyata menggambarkan kepada kita betapa tingginya semangat pejuangan, jiwa patriotisme dan rasa nasionalisme masyarakat dataran sejarah perjuangan bangsa.
Potensi tersebut ternyata perlu diperlihara kapanpun dan dimanapun, karena memang pada era globalisasi saat sekarang, ekspansionisme tidak hanya dilakukan dalam adu kekuatan persenjataan, melainkan juga melalui berbagai dimensi kehidupan, seperti informasi, budaya, politik hukum, dan lain sebagainya. Menurut Michel Faucault dalam bukunya yang bejudul Kegilaan dan Peradaban (2002), mengakui bahwa orang-orang yang disebut dengan hero atau patriot yang dimiliki hampir semua bangsa adalah “orang-orang gila”.

Michel Faucault menyadari bahwa yang mampu mengubah sekaligus menyelamatkan dunia dari penjajahan, ketertindasan dan keterbelakangan karena sistem penjajahan adalah orang-orang gila. Orang gila dalam buku ini ternyata tidak pernah memikirkan tentang keselamatan diri mereka, melainkan melakukan serangan “membabi buta” untuk menumpas penjajah dengan tidak perlu banyak pikir akan potensi yang dimiliki orang lain. Michel Faucult juga mengisyaratkan bahwa yang mampu mengubah dunia adalah “orang-orang gila” dan bukanlah orang-orang “waras”.

Semangat Kepahlawanan Harus kita. akui bahwa saat sekarang kita kurang memiliki semangat kepahlawanan. Hampir diberbagai sektor kehidupan saat sekarang senang digerogoti oleh semangat untuk memperkaya diri, memperkokoh kekuasaan serta memanfhatkan kesempatan dalam kesempitan sekaligus berupaya untuk menghancurkan negeri Ini. Karena tidak memiliki semangat kepahlawanan, orang tidak peduh lagi dengan mereka yang korban, tidur ditenda-tenda pengungsian, hidup dalam duka dan lara serta hari-hari yang dilewatkan dalam penantian janj-janji.

Setiap hari, mobil-mobil mewah, dan manusia berdasi melewati barak pengungsi. Namun mereka tetap saja merana. Seliap hari para pengungsi diajak untuk bermimpi indah, namun setiap hari mereka merana, Setiap hari para pengungsi diberikan barapan hidup, namun kenyataannya untuk memasak nasi saja mereka harus membelah kayu, meniup bara dan mencari beras untuk makan siang dan malam.
Mereka butuh seorang Pahlawan yang akan memberikan seteguk air dikala haus, sesuap nasi dikala lapar, seranting kayu dikala tidak mampu berjalan, seuntai tali untuk bergantung dan selembar kertas Koran untuk alas tidur. Ketika suatu malam saya bergabung dengan. para pengungsi, malam penuh bintang mereka lewati hanya dengan berke1uh kesah tentang nasib mereka. Ditengah kegelapan mereka. bercengkrama dan diselingi dengan sikap iba serta meneteskan air mata.
Semangat kepahlawan perlu kita patrikan dalam rangka menciptakan Aceh yang benar-benar damai. Sebagai pahlawan muttaqin pasca-Ramadhan, sudah seharusnya keinginan untuk menciptakan Aceh yang damai tidak hanya jadi slogan belaka, melainkan harus mampu kita implementasikan lewat getaran jiwa, prilaku keseharian, dan sikap mental kita.
Para pahlawan, tentunya, tidak mau tampil sebagai manusia yang munafik, yang “lain di mulut lain di hati” dan “pepat di luar runcing didalam”. Sebagai bangsa yang beradab, tidak sepantasnya. kita. meniru tabiat kolonial Belanda. yang berdamai dikala lemah dan menyerang dikala kuat.
Jika memang kita sudah sepakat lewat MoU dengan beberapa butir perdamaiannya, mari kita laksanakan semuanya itu dengan niat yang tulus, itikad yang baik dan semangat membangun Provinsi NAD ini. Semoga Aceh ke depan akan lebih baik dari hari kemaren, dan Aceh esok akan lebih baik dari hari ini.

*) Penulis adalah Alumni Sastra Sejarah Unand, pemerhati masalah sosial politik.

Read more...

Tragedi Haymarket

>> Rabu, 23 Januari 2008

Tragedi Haymarket

Pada April 1886, ratusan ribu kelas pekerja di AS yang berkeinginan kuat menghentikan dominasi kelas borjuis, bergabung dengan organisasi pekerja Knights of Labour. Perjuangan kelas masif menemukan momentum di Chicago, salah satu pusat pengorganisiran serikat-serikat pekerja AS yang cukup besar. Gerakan serikat pekerja di kota ini sangat dipengaruhi ide-ide International Workingsmen Association. Gerakan tersebut telah melakukan agitasi dan propaganda tanpa henti sebelum Mei untuk merealisasikan tuntutan ‘Delapan Jam Sehari.’ Menjelang 1 Mei, sekitar 50.000 pekerja telah melakukan pemogokan. Sekitar 30.000 pekerja bergabung dengan mereka di kemudian hari. Para pekerja turun ke jalan bersama anak-anak serta istri untuk meneriakkan tuntutan universal ‘Delapan Jam Sehari.’ Pemogokan ini membawa aktifitas industri di Chicago lumpuh dan membuat kelas borjuis panik.
Namun tepat 3 Mei, pemerintah mengutus sejumlah polisi untuk meredam pemogokan pekerja di pabrik McCormick. Mereka menembak mati empat orang pekerja dan menciderai banyak orang. Gusar dengan tindakan kelas penguasa tersebut, sejumlah kaum anarkis yang dipimpin Albert Parsons dan August Spies–juga merupakan anggota aktif Knights of Labour–menyerukan kepada kelas pekerja agar mempersenjatai diri dan berpartisipasi di dalam demonstrasi keesokan hari. Pertemuan di hari berikut yang berlokasi di bunderan Haymarket itu, berjalan tanpa insiden. Karena cuaca buruk banyak partisipan aksi membubarkan diri dan kerumunan tersisa sekitar ratusan orang. Pada saat itulah, 180 polisi datang dan menyuruh pertemuan dibubarkan. Ketika pembicara terakhir hendak turun mimbar, menuruti peringatan polisi tersebut, sebuah bom meledak di barisan polisi. Satu orang terbunuh dan melukai 70 orang diantaranya. Polisi menyikapi ledakan bom tersebut dengan menembaki kerumunan pekerja yang berkumpul, menyebabkan satu orang terbunuh dan banyak yang terluka.
Meskipun tidak jelas siapa yang melakukan pelemparan bom, media massa dan politisi borjuis mulai melemparkan tuduhan-tuduhan kabur bahwa ledakan tersebut merupakan ulah kaum sosialis dan anarkis. Mereka menyerukan ’sebuah balas dendam yang pantas kepada kaum radikal.’ Setiap tempat pertemuan, sekretariat serikat pekerja, tempat cetak, serta rumah pribadi para aktifis diserang polisi. Setiap tokoh sosialis dan anarkis ditangkap. Bahkan individu-individu yang sama sekali tidak memahami apa itu sosialisme dan anarkisme, ditahan dan disiksa. Julius Grinnell, Jaksa Penuntut Umum kota tersebut, menyuruh kepolisian ‘melakukan penyergapan terlebih dahulu baru kemudian mempertimbangkan pelanggaran-pelanggaran hukumnya’. Delapan dari tokoh anarkis yang aktif di Chicago, dituntut dengan tuduhan pembunuhan terencana. Mereka adalah August Spies, Albert Parsons, Adolph Fischer, George Engel, Fielden, Michael Schwab, Louis Lingg dan Oscar Neebe.
Pengadilan spektakuler kedelapan anarkis tersebut adalah salah satu sejarah kebengisan lembaga peradilan AS yang sangat dipengaruhi kelas borjuis Chicago. Pada 21 Juni, 1886, tanpa ada bukti-bukti kuat yang dapat mengasosiasikan kedelapan anarkis dengan insiden tersebut (dari kedelapan orang, hanya satu yang hadir. Dan Ia berada di mimbar pembicara ketika insiden terjadi), pengadilan menjatuhi hukuman mati kepada para tertuduh. Pada 11 November, 1887, Albert Parsons, August Spies, Adolf Fischer, dan George Engel dihukum gantung. Louise Lingg menggantung dirinya di penjara.
Sekitar 250.000 orang berkerumun mengiringi prosesi pemakaman Albert Parsons sambil mengekspresikan kekecewaan terhadap praktik korup pengadilan AS. Kampanye-kampanye untuk membebaskan mereka yang masih berada di dalam tahanan, terus berlangsung. Pada Juni, 1893, Gubernur Altgeld, yang membebaskan sisa tahanan peristiwa Haymarket, mengeluarkan pernyataan bahwa, ‘mereka yang telah dibebaskan, bukanlah karena mereka telah diampuni, melainkan karena mereka sama sekali tidak bersalah.’ Ia meneruskan klaim bahwa mereka yang telah dihukum gantung dan yang sekarang dibebaskan adalah korban dari ‘hakim-hakim serta para juri yang disuap.’ Tindakan ini mengakhiri karir politiknya.
Bagi kaum revolusioner dan aktifis gerakan pekerja saat itu, tragedi Haymarket bukanlah sekadar sebuah drama perjuangan tuntunan ‘Delapan Jam Sehari’, tetapi sebuah harapan untuk memerjuangkan dunia baru yang lebih baik. Pada Kongres Internasional Kedua di Paris, 1889, 1 Mei ditetapkan sebagai hari libur pekerja. Penetapan untuk memperingati para martir Haymarket di mana bendera merah menjadi simbol setiap tumpah darah kelas pekerja yang berjuang demi hak-haknya.
Meskipun begitu, komitmen Internasional Kedua kepada tradisi May Day diwarisi dengan semangat berbeda. Kaum Sosial Demokrat Jerman, elemen yang cukup berpengaruh di Organisasi Internasional Kedua, mengirim jutaan pekerja untuk mati di medan perang demi ‘Negara dan Bangsa.’ Setelah dua Perang Dunia berlalu, May Day hanya menjadi tradisi usang, di mana serikat buruh dan partai Kiri memanfaatkan momentum tersebut demi kepentingan ideologis. Terutama di era Stalinis, di mana banyak dari organisasi anarkis dan gerakan pekerja radikal dibabat habis di bawah pemerintahan partai komunis.[ii] Hingga hari ini, tradisi May Day telah direduksi menjadi sekadar ‘Hari Buruh’, dan bukan lagi sebuah hari peringatan kelas pekerja atau proletar untuk menghapuskan kelas dan kapitalisme.

Read more...

MAY DAY SEBAGAI SEJARAH PERJUANGAN KELAS

Asal-Usul


May Day lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Gerigi-gerigi panas mesin era industri membelalakkan mata kaum pekerja terhadap kondisi masyarakat. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis ekonomi-politik, terutama di negara-negara kapitalis Barat. Amerika Serikat merupakan contoh konkrit. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, menuai amarah dan perlawanan dari kalangan kelas pekerja. Pemogokan pertama kelas pekerja Amerika Serikat terjadi di 1806 oleh pekerja cordwainers. Pemogokan ini membawa para pengorganisirnya ke meja pengadilan dan juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja di era tersebut bekerja dari 19 sampai 20 jam seharinya. Sejak saat itu, perjuangan untuk menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika Serikat.
Abad 19 juga menandakan sebuah momen penting kesadaran kelas pekerja dunia. Kongres Internasional Pertama [i], diselenggarakan pada September 1866 di Jenewa, Swiss, dihadiri berbagai elemen organisasi pekerja belahan dunia. Kongres ini menetapkan sebuah tuntutan mereduksi jam kerja menjadi delapan jam sehari, yang sebelumnya (masih pada tahun sama) telah dilakukan National Labour Union di AS: “Sebagaimana batasan-batasan ini mewakili tuntutan umum kelas pekerja Amerika Serikat, maka kongres merubah tuntutan ini menjadi landasan umum kelas pekerja seluruh dunia.” Kaum revolusioner waktu itu menganggap bahwa tuntutan delapan jam sehari bukanlah tuntutan final, melainkan taktik untuk mengakselerasikan kesadaran kelas yang luas di antara kalangan kelas pekerja. Semenjak saat inilah, gerakan pekerja mulai menggemakan ide-ide mengenai solidaritas internasional. Di mana harapan akan sebuah dunia baru yang lebih baik mulai bersemi di setiap hati para kelas pekerja dunia yang beramai-ramai berseru: “Derita satu adalah derita yang dirasakan semua!” Kongres Jenewa merupakan titik berangkat transformasi visi dan strategi gerakan kelas pekerja di masa depan.
Satu Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions untuk, selain memberikan momen tuntutan delapan jam sehari, memberikan semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik masif di era tersebut.

Read more...

Go TO :

  © Blogger template Webnolia by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP